Home Berita Badan dayah dinilai salah sasaran

Badan dayah dinilai salah sasaran

91
0
SHARE

BANDA ACEH – Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) yang dibentuk Pemerintah Aceh pada 2008 dinilai mulai menyimpang dari tujuan awal pendiriannya. Penyimpangan itu terlihat dari program tahunan BPPD yang tidak lagi fokus pada dayah salafi (tradisional).

Hal itu diungkap Ketua Gema Aneuk Muda Nanggroe Aceh(GAMNA), Tgk H. Irsyadi, dalam diskusi dan evaluasi tahunan GAMNA di Banda Aceh, Rabu (1/1).

“Saya termasuk salah seorang yang ikut mendorong pendirian badan dayah pada tahun 2008. Saat itu kami mendesak agar pemerintah mengambil bagian dalam membangun dan memberdayakan dayah salafi. Tapi kemudian badan dayah malah tidak lagi fokus dalam membangun dayah salafi,” ujar Irsyadi.

Menurut Irsyadi, BPPD lebih banyak memfokuskan pembangunan dan pemberdayaan pondok pesantren modern. Padahal, kata dia, pada awal pendiriannya, BPPD diharapkan untuk ikut membantu pemberdayaan tradisional yang rata-rata kondisinya memang memprihatinkan, baik fisik, lingkungan, maupun sumber daya manusianya.

“Bukannya kami menolak pemerintah untuk memperhatikan dayah modern, akan tetapi pada kenyataannya dayah modern memiliki SDM dan sumber pendanaan yang lebih baik dibanding dayah salafi. Dayah modern mengambil biaya pendidikan dari santri dalam jumlah yang cukup sehingga mampu membayar gaji guru dengan baik dan lancar,” sambung Irsyadi yang dibenarkan Tgk Muhammad Nasir.

Oleh sebab itu, GAMNA mendesak pemerintah Aceh dan DPRA untuk mengembalikan peran BPPD sesuai dengan visi awal pendiriannya. BPPD diharapkan kembali pada rel awal pendiriannya yaitu membangun dayah salafi. Sementara dayah modern diharapkan untuk ditangani oleh dinas pendidikan saja.(sr/rel)