Home Berita Daerah DPW GAMNA Pidie beri pelatihan menulis karya kreatif 70 siswa Pidie di...

DPW GAMNA Pidie beri pelatihan menulis karya kreatif 70 siswa Pidie di kelas yang panas

90
0
SHARE

DPW GAMNA Pidie beri pelatihan menulis karya kreatif 70 siswa Pidie di kelas yang panas

Ini adalah sekolah kedua yang kami kunjugi bulan ini, kami mengunjungi sekolah ini karena sekolah pertama yang kami kunjugi sudah selesai acaranya. Tahun ini saya bekerja sama dengan TIM  GAMNA Pidie, pogram pelatihan yang di Inisiasi  oleh  Wada Irsyadi dan  bang Munawir Abdullah Bin Syeh penggeraknya.

Pokoknya yang saya tahu saya harus memberi pelatihan menulis pada Anak-anak usia sekolah. Kalau tahun lalu saya di perbantukan oleh Ibuk Ainun mantan ketua FLP Sigli Zaman Romawi kuno. Untuk satu sekolah saja di Man Padang Tiji.

Melihat sekolah-sekolah di kampong sendiri rasanya ingin menangis, atapnya bocor, bangkunya masih kayu yang berat sama dipikul ringan saya buat sendiri dan meja sudah tidak simentris lagi. Ditambah lagi panas luar biasa. Bagaimana mereka belajar di sekolah sepanas ini. Apakah ini contoh dari guru agama untuk simulasi padang mahsyar?          

Ada juga yang harus jalan kaki bermil-mil untuk sekolah, tidak ada secuil pun angkutan yang menjangkau mereka, sampai kesekolah sudah lelah, mana masuk pelajaran. Ini tidak terjadi di sekolah kedua saja. Di sekolah saya mengajar juga suasana kelasnya panas kalau musim panas, dingin kalau musim hujan, basah kalau musim banjir. Hanyalah sekolah unggullah yang merekalah dinginlah saat belajarlah, sekolah setiap kelasnya ada Ac dan sekolah lain hanya ada Ac di ruang kepala saja. Ac nya diatas kepala pak kepala sekolah, dibawa diatas kepala sehari-hari sampai kepalanya dingin supaya bisa menyelesaikan masalah-masalah sekolah dengan kepala yang dingin. Belajar adalah hal yang sangat sulit dilakukan oleh bangsa Indonesia.

Makanya beberapa politisi asal bicara dan otak mereka kadang sangat mahal harganya. Nyan bak peusalah gop. Kadang memang konspirasi Yahudi untuk pembodohan bangsa. Indonesia memang di klaim oleh PBB sebagai Dunia ketiga. Negara yang belum adidaya dan kekurangan dimana-mana baik dari segi energy, infrastruktur dan infra merah. Klaim seperti ini disatu sisi melemahkan dan mencegah kemauan dari segi semangat. Kok bisa mereka bilang kita dunia ketiga padahal hasil alam kita melimpah. Ho I grop lon padahai yak tuleh tentang kondisi pendidikan.          

Bapak tadi panik infokus kemana di tancapkan, sampai memindahkan papan tulis yang masih berwarna hitam dan menulisnya masih pakai kapur. Saya pikir industri kapur sudah habis masa karena sekarang sudah beralih ke White Board dan menulis pakek sapi yang berwarna biru dan hitam, Sapidol.          

Ingin saya menangis tadi disana, tapi air mata ini sudah habis saat mengetahui kamu dengan orang lain. Waktu dulu pakai kapur guru ada yang terkena batuk dan kangker karena kapur. Tapi sejak guru memakai sepidol tidak ada kasus guru tertelan spidol saat mengajar.          

Tapi tidak bisa disamakan juga semua sekolah, ada yang infrastruktur prasarana dan tata busana nya lengkap, tidak bisa di pungkiri juga masih kurang. Dari segi gurunya juga, guru-guru yang bagus di sekolah unggul, guru yang tidak bagus di sekolah biasa.          

Tapi yang capek deh, semua murid mendambakan guru yang keren dan fasilitas yang bagus, maunya di sekolah yang keren guru yang ngajar bagus itu di rekam dan diputar videonya di sekolah yang gurunya malas masuk. Selain sebagai ibroh dan pengayaan bahan pelajaran yang diajarkan di caturwulan, juga bisa jadi penyemangat anak-anak dengan guru yang didambakannya.          

Berapa banyak sudah guru yang bagus yang sudah wafat karena tidak direkam. Oh, maksudnya sudah berpulang tapi tanpa rekaman tentang kehebatannya mengajar. Padahal kamera sudah ditemukan oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1990. Banyak lagi potensi siswa yang saya lihat disekolah pertama dan kedua, ada yang juara basket tapi sekolahnya tak ada lapangan basket. Ada yang bisa menulis tapi tak dikasih sama orangtuanya. Katanya cita-cita harus na yang  lage gop.          

Beberapa potensi kadang tidak bisa dilihat oleh gurunya. Seperti tadi ada beberapa yang keren cara menulisnya, tapi dia kurang percaya diri, ada juga adek tu yang cita-citanya jadi penulis dan arsitek tapi dia curhat sama kami orangtuanya tidak kasih izin dan bonyoknya (bokap-nyoekap) ingin dia menjadi santri.

Saya ingin menyelamatkannya dan menikah dengan saya dan mau saya relakan dia dengan cita-citanya tapi dia masih kelas 1 Smp tidak di kasih izin juga nanti sama KUA. Anak sekecil itu sudah berani berdiri di ratusan peserta berbicara lugas dan tanpa meusantet sedikitpun, kalah pak Bupati  Sigli retorikanya. Kami terkesima, tapi tahun depan dia baru masuk SMA.    

Saat aku hampir putus asa mencari penulis berbakat yang masih muda untuk diberikan pemberitahuan,pelatihan, perlombaan dan perminyakan, akhirnya ketemunya di sekolah kedua ini, begitu senang hati dan saya bisa meninggal dengan damai. Jadi inti tulisan ini apa bang?

Editor   : Irsyadi 

penulis : Riazul Iqbal