Home Berita Singkat Merasakan Aceh lewat Keumang Tanjong

Merasakan Aceh lewat Keumang Tanjong

97
0
SHARE

Merasakan Aceh lewat Keumang Tanjong

Oleh : Kismullah

Melalui buku Kumpulan Cerpen bertajuk “Melalui Ilusi Waktu” (MIWA), Musmarwan Abdullah seolah mengajak kita berpetualang mengangkangi dimensi ruang dan waktu untuk merasakan Aceh dan memahami manusianya melalui lensa Keumang Tanjong, sebuah kecamatan di wilayah pesisir Pidie. Daerah yang merupakan tempat domisili pengarang ini menyimpan romantika tersendiri dalam kancah sejarah paling baru di Aceh, sejarah konflik berdarah GAM dan Pemerintah. Di Pasi Lhok, Teungku Hasan Tiro pertama sekali mendarat dalam misinya untuk membangkitkan kesadaran aneuk nanggroe. Melalui garis pantai kecamatan ini senjata dulu dipasok. Dari pantai daerah ini para Gam Cantoi[i]membawa lari ratusan bahkan mungkin ribuan peluru dan amunisi baik dalam karung ataupun jerigen-jerigen sampai ke kaki pegunungan Halimon untuk digunakan oleh gerilyawan GAM dalam rangka ‘menyemarakkan’ berbagai peristiwa penyanggongan dan peperangan masa itu. Imbas dari ‘reputasi’ Keumang Tanjong ini dikemas apik oleh Musmarwan dalam narasi sejumlah cerpen yang ada dalam buku ini. Aneka tema lain yang bersentuhan langsung dengan masyarakat baik secara kolektif maupun personal juga tidak luput termaktub dalam 158 halaman buku terbitan GAMNA Publishing ini.

Etnografi berbentuk fiksi

Dalam sebuah acara diskusi dan bookreading di universitas di Amerika untuk novel Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pramoedya Ananta Toer melalui penerjemah menyampaikan bahwa biarpun sebuah karya itu merupakan fiksi, bagian besar dalam karya tersebut bisa saja tentang sang penulis sendiri, alam sekitar, idealisme, dan harapan sang penulis. Nampaknya, ini juga berlaku untuk kumpulan cerpen Musmarwan ini.Kita mungkin tidak bisa menebak dan menduga seberapa besar porsi kandungan karya ini tentang penulis, tapi kita bisa memastikan bahwa kisah ini diangkat dari realitas dalam masyarakat yang ada di sekitar penulis. Ibarat sebuah etnografi, buku kumpulan cerpen ini membeberkan kondisi masyarakat beserta sikap dan perilakunya dalam merespon setiap fenomena yang ada. Memang setting ceritanya umumnya tidak jauh-jauh dari Keumang Tanjong dan sekitarnya, tapi hampir bisa dipastikan kalau ini bisa menjadi cerminan fenomena yang kita hadapi tanpa peduli dimana kita berdomisili.

Kritik sosial

MIWA ini sarat kritik sosial dan politik.Dalam Terima Kasih Kau Telah Hancurkan Aku misalnya, seakan pengarang ingin mengingatkan petani lebih cermat memilih pagar dari jenis kayu yang kuat sehingga anti labrak dan mampu menahan nafsu dan kalap lembu yang hasratnya sudah sampai ke ubun untuk memakan dan melahap semua tanaman isi kebun milik petani. Mungkin bukan hanya itu tapi juga tidak memilih pagar yang malah berpotensi malahap isi kebun. Walaupun cerita ini menggunakan bahasa perlambangan, ada iktibar yang bisa diambil dan sangat relevan, khususnya menjelang 2017 yang semakin dekat. Rakyat harusnya jeli dalam memilih pemimpin yang bukan dari kalangan lumo pök pageuë ataupun dari golongan pagar yang tega memakan tanaman. Mungkin saja itu adalah isyarat dari Musmarwan.

Kritik politik disampaikan dengan halus dengan mengggunakan strategi konsesi atau ulur tarik atau strategi ancang-ancang dimana akui dulu orang kemudian masukkan ide yang ingin disampaikan:assertivetapi tidak memaksa. Ini terjadi, misalnya, saat tokohAkudalam Ramadhan Suram mengakui dulu nelangsa keluarga tentara yang pernah bertugas yang harus rela kehilangan orang tercintanyamedan konflikkemudian baru menyampaikan duka dan kepedihan masyarakat Aceh yang kebtulan tanpa memilih berada di Aceh, daerah yang sedang bergolak saat itu. Ini diwakili oleh penyampaian tentang duka sanak family Hanafiah.

Genre

Sejumlah cerita dalam buku ini hampir bisa dikatakan, biapun mungkin sedikit berlebihan, bergenre science fiction dan fantasisemacam trilogiThe Hunger Games karya Suzanne Collins dan Matched karya Allie Condie. Genre science fiction biasanya mengambil setting waktu masa depan ataupun masa lalu. Science fiction bisa melibatkan luar angkasa ataupun planet lain dan umumnya menyiratkan kemajuan di bidang teknologi, berkembangnya prinsip-prinsip baru dalam ilmu pengetahuan, system politik dan social kemasyarakatan (Curwood, 2013). Paling tidak, dua cerpen dalam koleksi Musmarwan ini memenuhi karakter tersebut, yaitu yang judulnya Klik, yang berposisi sebagai mukaddimah buku ini, dan Melalui Ilusi Waktu yang kemudian diambil sebagai judul buku. Mungkin keunikan dari cerita-cerita Musmarwan adalah ketika kita diajak kembali ke alam nyata setelah berwara-wiri di alam khayal. Kemudian untuk keluar masuk ke dimensi ruang dan waktu yang berbeda tersebut, pengarang tidak menggunakan konsep klise mesin waktu seperti kebanyakan karyadari genre sejenis.

Hikmah dan Pelajaran

Karya sastra memang bisa dimaknai dan dihayati secara beragam oleh penikmatnya. Begitu juga dengan buku kumpulan cerpen ini, isinya bisa saja dihubung-hubungkan dengan cara berbeda-beda oleh masing-masing pembacanya. Sama halnya seperti sang pengarang memaknai dan menghubungkan lagu romantisDealovalantunan Once dengan kehidupan pribadi tokohnya dalam cerita yang bertajuk Di Sudut Bireuen Parte. Begitu juga dengan saya yang juga memiliki pemaknaan sendiri terhadap cerita-cerita dalam buku yang sekarang paling laris di Toko Buku Zikra ini. Kita menemukan hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah ini tidak lain karena kita bisa melihat ada wajah kita sendiri dalam dunia ilusi Musmarwan tersebut.

Hal-hal kecil dalam setiap cerita dalam buku ini kadang menghenyakkan kita untuk berefleksi dan memaknainya sebagai pelajaran hidup biarpun mungkin itu bukan fokus dari pengarang karena dalam bagian tertentu kita dapat melihat wajah sendiri. Sebagai contoh, dalam Sehelai Daun, tokoh Teuku Abdullah tergambar sebagai seorang yang sangat royal, terutama dengan orang-orang yang suka memujinya. Royalnya ini membuat dia menjadi seorang yang papa sehingga waktu meninggalnya tidak meninggalkan apa-apa. Padahal dia berasal dari keturunan aristokrat yang notabenenya mewarisi banyak harta. Begitulah, karena sifat senang dipuji, bahagia disebut-sebut, dan ingin diingat-ingat oleh jutaan orang kadang membuat orang hilang kendali hanya untuk memelihara keadaan tersebut dan ‘menjaga’ para pemujinya. Padahal untuk apa lah dipuji jutaan orang kalau pujian itu pujian palsu yang superficial dan lips service saja. Bukankah lebih baik kita dikagumi dan dihargai oleh satu dua orang saja dengan tulus dan sepenuhnya, oleh orang-orang yang berarti dalam hidup kita, dari pada terus memelihara dan mengharap pujian dari jutaan orang yang kemudian mendodaidi kita sehingga kita hanya menipu diri sendiri? Kadang orang memuji, tapi ada maksudnya seperti sebuah pepatah yang dipelesetkan, ada udang dibalik bakwan, yang menggambarkan bahwa pujian atau kebaikan kadang menyembunyikan sebuah kepentingan dan desepsi muslihat.

Banyak lagi yang disampaikan Musmarwan tentunya mulai dari bagaimana beda hamba merdeka dengan hamba sahaya dalam hubungannya dengan kesabaran, sampai apa yang membedakan sebuah tulisan biasa dengan tulisan kreatif. Musmarwan dalam salah satu cerpennya dalam MIWA ini juga sempat menjelaskan kenapa meski klasik frasa ‘pada suatu hari’ sangat membantu dalam menulis sebuah cerpen.

Secuil Kekhawatiran tersirat

Ada mitos yang seolah ingin didekonstruksi dan dibongkar oleh Musmarwan melalui dialog-dialog yang sangat powerful dalam MIWA ini. Misi ini diwakilkan melalui tokoh-tokoh dalam masing-masing cerpen melalui penyajian dialog-dialog tersebut. Misalnya, dalamPawang Lebah,kepercayaan perlu memakai doa untuk mengambil madu dari sarang lebah disanggah oleh seorang pawang muda yang sudah sering melakukannya tanpa menggunakan doa. Namun Musmarwan segera menetralkan pikiran kita dengan ungkapan ‘Awak kah chit peunulang awai mandum katiek lam parék’ yang disampaikan melalui seorang pawang gaèk yang sedang diwawancara di kampungnya oleh seorang jurnalis cantik.

Juktaposisi (menempatkan secara beriringan/berdampingan) cerita antara burung-burung nabi Sulaiman dan daun-daun Musmarwan yang bisa berbicara bisa menggelitik pemikiran dan pengetahuan kita yang sudah fixedtentang burung-burung yang bisa berbicara tersebut. Adakah kisah yang selama ini kita baca atau dengar nyata adanya atau hanya metafor yang tujuannya hanya memberikan hikmah dan pelajaran untuk umat manusia tentang keagungan Sulaiman. Kita memahami Musmarwan dan daun-daunnya adalah sebuah bentuk penyajian imajinasi yang tujuannya untuk memberikan iktibar yang bisa kita tarik dan kita hubung-hubungkan dengan kehidupan nyata. Apakah ini juga tujuan kisah-kisah yang sudah terdahulu? Tentu hanya pikiran dan naluri kita sendiri yang mampu memberi jawaban.Musmarwan pun tidak menawarkan ungkapan yang tegas dalam hal ini mengingat sensitifnya isu ini.

Menjangkau masyarakat

Cerpen-cerpen dalam koleksi ini bisa mengikat dan memikat pembacanya paling tidak dengan dua hal. Pertama cerita ini, menjangkau pembacanya melalui peristiwa dan fenomena yang bisa langsung dirasakan dan mengetuk ingatan kolektif, mulai dari cerita unik pribadi, konflik, romansa, dan dialektika berbahasa dalam masyarakat. Misalnya, di kalangan masyarakat Aceh luas sekali stigma untuk orang yang berbicara bahasa Indonesia tetapi tidak bisa menghilangkan logat Acehnya (meuaceh) apalagi kalau terselip kosa kata Aceh. Ini gejala yang sudah lama berkembang dan menjangkiti masyarakat Aceh (penutur bahasa Aceh): malu keacehannya tampak ketika berwacana dalam bahasa Indonesia. Fenomena ini tentu sudah kita maklum bersama dan ini digambarkan oleh Musmarwan dalam sebuah scene di warung kopi Bang Win di pasar Keumang Tanjong dalam Ramadhan Suram. Seorang komandan tentara nonorganik setiap malam duduk dengan beberapa pemuda kampung yang sudah terbiasa dengannya. Sementara ada juga pemuda lain yang hanya duduk sebentar sekedar tegur sapa lalu berlalu khawatir bahasa Indonesianya tidak ‘sempurna’.

Kedua, dalam penyampaiannya Musmarwan menggunakan ungkapan-ungkapan organik yang mudah dipahami dan dirasakan dan dihayati maknanya oleh sang pembaca. Ungkapan organik yang dimaksud adalah ungkapan bahasa local, yaitu bahasa Aceh. Kalau mau dipilah lagi, ungkapan organik ini ada dua jenis, yaitu ungkapan yang masih mentah bahasa Aceh, dan ungkapan bahasa Aceh yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia tapi jejak keacehannya tetap tersisa. Penggunaan nama lokal seperti Wak Mindan Hanafiahuntuk tokoh juga membuat pembaca merasa lebih dekat dan akrab dengan isi cerita.

Dalam sebuah pertemuan di sebuah Kedai Kupi di Sigli Musmarwan mengungkapkan jauh dari hasrat komersial tujuannya menulis adalah untuk bersentuhan dan berkomunikasi serta menjangkau masyarakat dan generasi berikut untuk membangkitkan kesadaran tentang peristiwa di sekitar mereka dan memaknainya. Harus kita akui minim sekali kesadaran ini. Sebuah contoh, padam malam mengenang Munir oleh mahasiswa di sebuah Fakultas Hukum, saat ditilik oleh pemateri dari Komisi Informasi Aceh saat itu mahasiswa tidak tau siapa dan bagaimana peristiwa Bantaqiyah dan apa peran Munir dalam pengungkapan tragedi tersebut. Padahal sejarah ini masih segar sekali dalam benak kita. Buku dan tulisan seperti MIWA ini penting dalam hal mewarisi sejarah dan esensinya bai generasi muda. Mungkin tidak membahas Bantaqiyah tapi sejarah dan peristiwa serupa.

Buku ini bisa menjadi salah satu solusi dan model untuk mengatasi dissonansi kognisi kita. Kadang kita tau tapi tidak mau menyampaikan, kadang kita punya rasa tapi tidak bisa mengutarakan. Maka terjadilah gap dan putuslah mata rantai diseminasi sebuah pengetahuan yang berharga.

Membaca tentu mengaktifkan nalar dan imajinasi. Dalam kumpulan cerita ini, Musmarwan mengaduk-aduk imajinasi kita tanpa ampun sampai kita ragu untuk membedakan tunong dan barôh (arah selatan dan utara). Saat kita sedang dok(tenggelam) dalam dunia ilusi, tiba-tiba dibahue (diseret) lagi ke alam nyata. Teknik suspense ini cukup bisa membuat pembaca terhenyak dan membangkitkan engagementdengan bacaannya. Misalnya, saat kita sedang asyik menyelami dunia daun-daun yang sedang berwacana tentang kawannya yang jatuh melayang didodaidi oleh angin sampai mendarat di hamparan lumpur sebuah hutan bakau tiba-tiba kita diseret dan diajak kembali ke alam nyata dimana para manusia sedang berselisih pasal dimana mayat orangtua mereka harus dikuburkan, perselisihan yang sama sekali tidak terjadi di dunia dedaunan. Tidaklah berlebihan kalau buku ini kita sebut bacaan ringan tapi penuh petualangan.

Sebagai catatan penutup, bahasa simbolik dan fiksi adalah bahasa efektif yang digunakan oleh jiwa-jiwa ataupun masyarakat terjajah (oppressed society) untuk menyampaikan realitas dan kritik sebagaimana diungkap Paolo Freire.  Kalau dibaca, akan didapatkan bahawa MIWA sarat dengan unsur dan elemen ini. Selamat berpetualang dan selamat membaca!!

Editor :Irsyadi

penulis : Kismullah

 

Penulis adalah dosen pada Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Unsyiah, kandidat Doktor bidang Sosiolinguistik, Deakin University, Australia