Home Berita Muhammad Ali di TV Hitam-Putih Keude Keuchik Uma

Muhammad Ali di TV Hitam-Putih Keude Keuchik Uma

131
0
SHARE
Muhammad Ali di TV Hitam-Putih Keude Keuchik Uma
Suatu hari, di warung kopi Cek Yuke, Banda Aceh, saat kami tengah siap-siap hendak berbincang-bincang soal kebudayaan dengan Mayjen TNI Hambali Hanafiah, Panglima Kodam Iskandar Muda kala itu, Zulfadlie Kawom memanfaatkan waktu bercerita tentang kampungnya, Krueng Mane, Muara Batu, Aceh Utara. Cerita dimuai dari keude kupi Keuchik Uma. Di bawah ini sepenuhnya Zoel yang bercerita. Sebagai berikut:
Keude kupi Keuchiek Uma sangat laku. Ada TV hitam-putih sebagai sarana informasi dan hiburan. Karena TV hitam-putih itu pula sekali-sekali Keuchik Uma geujak cah batree u Geurugouk.
Di samping keude Keuchik Uma ada keude Keuchik Tayeb. Begitu juga yang menjual parang dan kaouh panyoet seurungkeeng, itu ada di keude Pak Baka. Yang crouh bada na Kak Ti Tafa. Penjual ikan Apa Amat Bakeutouk dan Apa Amat Tuloet.
Begitulah sesekali aku dibawa oleh orangtuaku sambilan beliau pergi shalat jum’at di masjid, di mana sepulang dari masjid, kami singgah di keude Keuchik Uma untuk minum kopi. Kalau malam hari, biarpun aku memaksa, orangtuaku tidak akan mengabulkan paksaan itu untuk membawaku ke keude Keuchik Uma, padahal waktu itu aku sangat ingin menonton pertandingan tinju Muhammad Ali.
(Berarti kisah yang dituturkan Zoel—sapaan pendek Zulfadlie Kawom—berkisar seputar awal 1980-an. Muhammad Ali menggantung sarung tinju pada 1981. Ia meninggal pada Jum’at, 3 Juni 2016. Tulisan ini juga bagian daripada sekelumit cara kami mengenang Ali.)
Aku juga—sambung Zoel—masih ingat penghuni tetap yang selalu puta keunoe-puta keudeeh di wilayah pasar. Dan itu termasuklah Apa Lah Inggreh. Beliau itu kalau nonton bola selalu mendukung Tim Inggris, makanya dia digelar Apa Lah Inggreh. Terus dari kampung sebelah ada Dawood Kudrat dan Haji Noh. Aku tidak tahu mengapa nama mereka seperti itu.
Yang kudengar tentang Haji Noh bahwa, gelar haji di belakang namanya cuma sebutan saja. Beliau tidak pernah menunaikan ibadah haji. Terus ada Apa Lah Sawang. Dia seorang penjual obat kaki lima dan sangat menyukai batu cincin, sampai-sampai di capeeng tali pinggangnya dia taruh batu cincin dan di jam tangannya juga ada dia tempel batu cincin.
Lalu di dekat gedung Sekolah Dasar ada Cut Koetaradja. Dia hanya buka kedai untuk anak-anak yang bersekolah di SD itu. Di dekat masjid ada Nek Peutua. Dia berjualan juga, padahal matanya sudah tak terang lagi melihat angka-angka di lembaran uang atau angka di lempengan uang logam, dan karena ini pula Nek Peutua sering ditokohi pembeli jahil. Tapi kata orang-orang kampung kami, walaupun Nek Peutua sering ditipu pembeli, aktivitas jualan beliau tidak pernah bangkrut. Dan terakhir yang saya tahu, anaknya, Apa Syib melanjutkan usaha jualan di dekat SD itu.
Tukang pangkas yang paling terkenal adalah Apa Bayan. Aku harus antri berjam-jam untuk memangkas rambut pada Apa Bayan. Kadang sampai tertidur menanti antrian, apalagi kalau mau dekat Hari Raya. Di samping keude koh ‘oek Apa Bayan juga ada keude koh ‘oek Apa Seuhak PDI, namun pada Apa Seuhak PDI aku hanya sekali-sekali pangkas rambut di situ.
Dan begitulah, masa itu telah berlalu. Beberapa orang telah almarhum dan yang masih hidup tentu masih dapat dijadikan sebagai saksi atas sejarah orang-orang yang kusebutkan tadi yang mana menurutku merekalah pelaku sejarah. Mereka adalah penggerak ekonomi di kemukimanku. Dan kenangan itu sangat khusus dalam ingatanku mengingat saat ini keude kemukiman kami sangat sepi. Hanya beberapa pedagang saja yang masih tersisa seiring dibukanya banyak kios yang menjamur di kampung-kampung.
Saat ini ureung Lhok Kreeh, Panigah, Teupin Banja, Pintoe Angen, Pintoe Weu, Cot Kiroe, Kuta Meuligoe, Glee Boom sudah tidak lagi berbelanja di keude kemukiman. Di masing-masing gampong sudah ada keude kupi dan kios yang berjualan berbagai barang keperluan sehari-hari plus sembako. Begitu juga orang-orang unik dengan nama-nama panggilan mereka yang sangat tradisionil itu yang dulu saban hari-malam dapat dipapasi dalam kawasan pasar, kini tidak ada lagi.
Ada juga orang-orang dengan nama-nama yang tadi lupa kusebutkan. Misalnya seperti Toke Piah yang kaya tapi gaya hidupnya sederhana dan Syeh Lah yang suka berbicara dengan gaya pantun.
Menurutku, Syeh Lah adalah penjaga gawang terakhir seni dan kebudayaan tradisional di kampung kami. Toke Piah sebagai penjaga gawang terakhir dalam hal prototype “Aceh-kaya namun gaya hidup tetap sederhana”, hana sok; hana ugoh; hana ujob; hana ria. Kini mereka juga telah almarhum. Banyak sekali yang telah tiada pada kita sekarang. (Termasuk Muhammad Ali, tentunya-pen.)***
penulis: Musmarwan Abdullah/catatan facebok